Adab Terhadap Sesama Muslim

Gambar. Adab Terhadap Sesama Muslim - www.wakafalhudabogor.com

ADAB TERHADAP SESAMA MUSLIM

Pertama, Mengucapkan salam. Hendaknya mengucapkan salam jika seorang muslim bertemu dengan sesamanya sebelum ia berbicara dengannya dan berjabat tangannya serta menjawab salamnya. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا (86)

“ Apabila kalian diberi salam dengan ucapan salam maka balaslah salam itu, dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah Maha Menghitung segala sesuatu. “ (QS An Nisa’ 86).

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wassalam bersabda:” Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu keduanya berjabat tangan melainkan keduanya diampuni sebelum keduanya berpisah.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Kedua, Menjenguk orang sakit. Hendaknya seorang muslim menjenguk saudaranya sesama muslim jika dia sakit dan mendo’akan kesembuhan untuknya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wassalam bersabda: ”Barangsiapa yang menjenguk orang sakit maka dia senantiasa bagaikan di taman-taman surga hingga dia kembali.” (HR. Muslim dan Tirmidzi) Dan mendo’akannya sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wassalam, dan salah satunya do’a, ”Laa Ba’sa Thohur Insya Allah.“ (HR. Bukhari)

Ketiga, Mengantar Jenazah. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wassalam bersabda: “Tidaklah seorang mu’min yang berta’ziyah pada saudaranya yang terkena musibah melainkan Allah berikan pakaian kemuliaan pada hari kiamat. (HR. Ibnu Majah dengan sanad Jayyid)

Keempat, Memenuhi Undangan. Yaitu memenuhi undangan saudara kita bila kita diundang olehnya seperti undangan Walimah, Aqiqah dan lainnya. Sebagaimana sabdanya Shalallahu ‘Alaihi wassalam: “Hak Muslim atas muslim lainnyaMenjawab salam, Menjenguk orang sakit, Mengantar jenazah, Menjawab bersin dan Memenuhi undangan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Selanjutnya yang kelima, Mendo’akannya ketika bersin. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wassalam: ”Jika salah seorang kalian bersin, maka hendaklah ia berkata “Alhamdulillah“, dan hendaknya saudaranya mengatakan padanya “Yarhamukallah“, dan apabila saudaranya telah mengatakan “Yarhamukallah“, maka orang yang bersin mengatakan ”Yahdikumullah“. (HR. Bukhari)

Keenam, Menasihatinya apabila ia meminta nasihat. Hendaknya kita menasihati saudara kita, bila ia meminta nasihat pada kita, sebagaimana Sabdanya Shalallahu ‘Alaihi wassalam: ”Jika salah seorang di antara kalian meminta nasihat pada saudaranya hendaklah saudaranya tersebut memberinya nasihat.“ (HR. Bukhari)

Ketujuh, Mencintainya sebagaimana ia mencintai dirinya. Sebagaimana Sabdanya Shalallahu ‘Alaihi wassalam: “Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan mereka, kasih sayang mereka dan keakraban mereka seperti satu badan. Jika salah satu anggota badan sakit maka seluruh anggota badannya juga merasakan hingga tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedelapan, Tidak mendiamkannya lebih dari tiga hari. Sebagaimana sabdanya Shalallahu ‘Alaihi wassalamTidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, keduanya bertemu, salah satunya berpaling dan orang satunya berpaling. Orang terbaik diantara mereka ialah orang yang memulai salam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kesembilan, Menjadikan seorang muslim saudara se-Islam. Memandang sama di sisi Alloh, tidak ada dinding yang menyekat, tidak memandang kepada bentuk tubuh, warna kulit, kaya atau miskin, orang Arab atau non Arab. Karena hakikat kemuliaan itu hanyalah berdasarkan ketakwaannya. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (13)

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Kesepuluh, Memberikan wala’ (loyalitas) berupa dukungan, kecintaan, bantuan, doa dan lain sebagainya kepada kaum muslimin lainnya pada hal-hal ketakwaan mereka seperti sholat, puasa, sedekah, dakwah, jihad melawan orang kafir dan amalan-amalan ketakwaan lainnya. Karena ini merupakan perintah Allah Ta’ala. Allah berfirman:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ (55) وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ (56)

Baca Artikel Lainnya!

“Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (QS. Al-Maidah: 55-56)

Allah juga berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (71)

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma´ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah: 71)

Kesebelas, Mencintai karena Alloh ﷻ semata. Bukan karena sesuatu dari urusan duniawi, seperti kekerabatan, urusan bisnis, dan lain sebagainya. Bahkan hal ini termasuk ikatan iman yang paling kuat.

أوثق عرى الإيمان : الحب في الله والبغض في الله

“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Thabarany dalam Kitab Al Kabir)

Keduabelas, Berlaku adil terhadap sesama muslim dan memaafkan kesalahannya. Jika terhadap orang kafir saja kita diperintahkan untuk berbuat adil, maka jauh lebih berhak lagi bila kita berlaku adil terhadap sesama muslim. Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (8)

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kalian jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (QS. Al-Maidah: 8)

Ketigabelas, Saling memberi hadiah sesuai dengan kesanggupannya. Karena hal ini semakin menumbuhkan kecintaan antara sesama muslim. Rasululloh bersabda:

تَهَادُوا تَحَابُّوا.

“Saling memberi hadiahlah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. al-Baihaqi, Hadis Hasan)

Keempatbelas, Menerima hadiah yang diberikan oleh saudara muslim meskipun hadiah tersebut sederhana atau kecil nilainya.

Kelimabelas, Tidak meminang pinangan saudaranya hingga saudaranya tersebut menarik diri dari pinangannya.

Keenambelas, Tidak dengki, berprasangka buruk, membenci, mencari-cari kesalahannya, menggunjing, menghina, memanggilnya dengan panggilan yang buruk dan memutus hubungan dengannya.

Ketujuhbelas, Tidak merampas hartanya dan menumpahkan darahnya. Karena darah dan harta benda seorang muslim serta kehormatannya adalah haram atas muslim lainnya.

Kedelapanbelas, Menutup aibnya, tidak memaki dan mencercanya baik di waktu hidup ataupun sesudah matinya.

RAIH KEUTAMAAN SEDEKAH SUBUH UNTUK SARANA IBADAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *