Ramadan itu bulan penuh berkah. Penuh pahala. Penuh peluang ampunan.
Tapi mari jujur – tidak sedikit yang justru merasa drop saat puasa. Badan lemas. Mata berat. Hati ikut redup. Tilawah terasa panjang. Tarawih terasa lama.
Padahal Ramadan adalah “musim panen” pahala.
Lalu sebenarnya, bagaimana Islam memandang rasa malas ini? Apakah wajar? Atau justru berbahaya?
Manusia Memang Lemah, Tapi Bukan Untuk Menyerah
Allah ﷻ sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا
“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”
(QS. An-Nisa: 28)
Ya, kita lemah. Fisik bisa drop. Mood bisa turun. Iman bisa naik-turun.
Tapi ayat itu bukan pembenaran untuk berhenti berjuang. Kelemahan adalah fakta. Menyerah adalah pilihan.
Malas Itu Penyakit, Bukan Sifat yang Dipelihara
Rasulullah ﷺ bahkan secara khusus memohon perlindungan dari rasa malas:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan rasa malas.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan: Nabi saja berlindung dari malas. Artinya, malas itu bukan hal remeh. Ia bisa jadi penyakit hati. Pelan-pelan menggerogoti semangat ibadah.
Kadang malas bukan karena tubuh tak mampu – tapi karena hati tak tergerak.
Kenapa Kita Bisa Malas Saat Ramadan?
Beberapa sebabnya sangat manusiawi:
- Kurang tidur karena begadang
- Pola makan berantakan
- Motivasi ruhiyah yang melemah
- Tidak benar-benar memahami keutamaan Ramadan
- Atau sekadar kalah oleh hawa nafsu
Sering kali kita menyalahkan “setan”. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Jika datang Ramadan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan syaitan-syaitan dibelenggu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kalau setan saja dibelenggu, lalu siapa yang sering menang?
Bisa jadi… diri kita sendiri.
Kita Lupa Besarnya Hadiah Ramadan
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan. Dosa yang lalu diampuni.
Kalau kita benar-benar sadar akan hadiah sebesar itu, masih pantaskah kita bermalas-malasan?
Masalahnya sering bukan kurang tenaga—tapi kurang kesadaran.
Cara Melawan Rasa Malas Saat Puasa
Tidak perlu dramatis. Tidak perlu langsung berubah total. Mulai pelan, tapi serius.
1. Luruskan Niat
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Ibadah yang ikhlas terasa berbeda. Lebih ringan. Lebih tenang.
Kalau terasa berat, mungkin niat kita perlu diperbarui, bukan aktivitasnya yang dihentikan.
2. Ingat Tujuan Puasa: Taqwa
Allah ﷻ berfirman:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“…agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Puasa bukan sekadar menahan lapar. Ia latihan pengendalian diri.
Justru saat malas datang dan kita tetap bangkit – di situlah latihan takwa terjadi.
3. Mulai dari Amal Kecil
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang konsisten walaupun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kalau 1 juz terasa berat, baca 2 halaman.
Kalau tahajud panjang terasa sulit, mulai 2 rakaat.
Jangan tunggu semangat besar untuk bergerak. Bergeraklah, nanti semangat menyusul.
4. Jaga Fisik, Itu Juga Ibadah
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.”
(HR. Bukhari)
Kurang tidur, terlalu banyak scrolling malam hari, makan berlebihan saat berbuka—semua itu bisa memperparah rasa malas.
Kadang solusi spiritual dimulai dari perbaikan pola hidup.
5. Berdoa, Jangan Andalkan Diri Sendiri
Kita sering ingin kuat dengan kemampuan sendiri. Padahal hati ini milik Allah.
Minta dikuatkan. Minta diteguhkan. Minta disemangati.
Karena yang membolak-balik hati bukan kita.
Rasa Malas Itu Ujian Keikhlasan
Justru saat tubuh lemah tapi kita tetap berdiri shalat…
Saat mata berat tapi kita tetap membuka mushaf…
Saat hati enggan tapi kita tetap berdoa…
Di situlah nilai perjuangan lahir.
Allah ﷻ berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)
Hidayah sering datang setelah perjuangan, bukan sebelum.
Ramadan hanya sebulan. Datang cepat. Pergi lebih cepat.
Jangan sampai ia berlalu, sementara kita kalah oleh rasa malas yang sebenarnya bisa dilawan.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba yang tetap beribadah, bahkan ketika tubuh terasa lemah—dan hati tetap hidup hingga akhir Ramadan.




