Ketika hidup terasa berat, masalah datang silih berganti, rezeki terasa sempit, dan hati dipenuhi kegelisahan, manusia sering mencari jalan keluar ke berbagai arah.
Namun, Al-Qur’an mengajarkan satu amalan yang sederhana tetapi memiliki kedudukan agung: istighfar.
Istighfar bukan sekadar ucapan untuk memohon ampun kepada Allah. Di dalamnya terdapat pengakuan atas kelemahan diri, penyesalan atas kesalahan, sekaligus harapan terhadap rahmat Allah.
Lalu, mengapa istighfar disebut sebagai salah satu jalan keluar dari kesulitan?
Istighfar dan Jalan Keluar dari Kesulitan
Salah satu dalil yang paling jelas terdapat dalam kisah Nabi Nuh عليه السلام ketika beliau menyeru kaumnya agar memohon ampun kepada Allah.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Artinya:
“Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’”
Referensi: Al-Qur’an, Surah Nuh ayat 10–12.
Ayat ini memberikan gambaran yang sangat indah tentang istighfar. Nabi Nuh عليه السلام tidak hanya menyeru kaumnya untuk memohon ampun karena dosa-dosa mereka, tetapi juga menjelaskan berbagai bentuk rahmat Allah yang dapat mereka harapkan.
Allah menyebutkan hujan, harta, keturunan, kebun, dan sungai setelah perintah untuk beristighfar.
Karena itu, istighfar memiliki dimensi targhib yang sangat kuat: seorang hamba diajak untuk kembali kepada Allah dengan membawa harapan, bukan hanya rasa takut.
Istighfar Membuka Pintu Rahmat Allah
Salah satu kesalahan manusia ketika menghadapi kesulitan adalah merasa bahwa dirinya sudah terlalu jauh dari Allah.
Padahal, selama seseorang masih mau kembali kepada Allah, pintu rahmat-Nya tidak boleh ditutup dalam pikirannya.
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
Referensi: Al-Qur’an, Surah Az-Zumar ayat 53.
Ayat ini merupakan salah satu kabar gembira terbesar bagi orang yang ingin kembali kepada Allah.
Maka ketika seseorang sedang berada dalam kesulitan, jangan sampai kesulitan tersebut membuatnya semakin jauh dari Allah.
Sebaliknya, jadikan kesulitan sebagai momentum untuk memperbanyak istighfar dan kembali kepada-Nya.
Istighfar Bukan Sekadar Meminta Dunia
Perlu dipahami bahwa istighfar tidak berarti seseorang mengucapkan “astaghfirullah” semata-mata sebagai cara untuk mendapatkan harta, pekerjaan, atau terbebas dari masalah.
Hakikat istighfar adalah memohon ampun kepada Allah.
Adapun kelapangan rezeki, ketenangan, pertolongan, dan berbagai bentuk kebaikan merupakan bagian dari rahmat Allah yang boleh diharapkan.
Karena itu, seorang muslim beristighfar karena menyadari bahwa dirinya membutuhkan ampunan Allah, kemudian berharap Allah membukakan jalan kebaikan untuknya.
Inilah keindahan targhib dalam ajaran Islam: manusia diajak kembali kepada Allah dengan menghadirkan harapan terhadap ampunan dan rahmat-Nya.
Mengapa Istighfar Berkaitan dengan Rezeki?
Kisah Nabi Nuh عليه السلام memberikan hubungan yang sangat menarik antara istighfar dan berbagai bentuk kenikmatan duniawi.
Setelah perintah:
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ
Allah menyebutkan:
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
Kemudian:
وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ
Dan:
وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Rangkaian ayat tersebut menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah kepada hamba yang kembali kepada-Nya.
Tafsir Ibnu Katsir merupakan salah satu rujukan penting dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an, dan pembahasan Surah Nuh termasuk dalam cakupan tafsirnya.
Namun, ayat tersebut tidak semestinya dipahami secara mekanis: “beristighfar sekian kali, kemudian pasti mendapatkan sejumlah harta.”
Tidak demikian.
Allah adalah Rabb Yang Maha Bijaksana. Bentuk, waktu, dan kadar pertolongan-Nya merupakan hak Allah.
Tugas seorang hamba adalah bertaubat, memperbanyak istighfar, memperbaiki diri, dan tetap berharap kepada Allah.
Istighfar Ketika Hati Sedang Terpuruk
Ada kalanya kesulitan terbesar bukanlah masalah finansial, pekerjaan, atau urusan dunia.
Kesulitan terbesar justru berada di dalam hati.
Seseorang mungkin memiliki banyak hal, tetapi hatinya gelisah. Ia mungkin terlihat baik-baik saja di hadapan manusia, tetapi di dalam dirinya terdapat penyesalan, ketakutan, dan rasa bersalah.
Dalam kondisi seperti ini, istighfar menjadi salah satu bentuk kembali kepada Allah.
Ucapkan dengan hati yang sadar:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
“Ya Allah, aku memohon ampun kepada-Mu.”
Bukan sekadar gerakan lisan, tetapi disertai kesadaran bahwa kita adalah hamba yang lemah dan Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun.
Jangan Merasa Dosa Menghalangi Kita untuk Kembali
Setan terkadang menggiring manusia kepada dua keadaan.
Pertama, membuat seseorang merasa aman dari dosa.
Kedua, setelah seseorang terjatuh dalam dosa, setan membuatnya merasa bahwa dirinya sudah tidak pantas kembali kepada Allah.
Padahal, orang yang berdosa justru membutuhkan taubat.
Allah berfirman:
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا
Artinya:
“Dan barangsiapa berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya sendiri, kemudian dia memohon ampun kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Referensi: Al-Qur’an, Surah An-Nisa ayat 110.
Perhatikan penutup ayat tersebut:
غَفُورًا رَحِيمًا
Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ini adalah kabar gembira bagi orang yang ingin memperbaiki diri.
Istighfar Bukan Berarti Pasrah Tanpa Usaha
Istighfar juga tidak boleh dipahami sebagai pengganti ikhtiar.
Jika seseorang mengalami kesulitan ekonomi, ia tetap perlu bekerja dan berusaha.
Jika memiliki persoalan keluarga, ia perlu mencari jalan penyelesaian.
Jika memiliki masalah kesehatan, ia perlu melakukan ikhtiar yang sesuai.
Istighfar berjalan bersama ikhtiar.
Seorang mukmin berusaha dengan kemampuan yang dimilikinya, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Dengan demikian, istighfar bukan alasan untuk meninggalkan usaha. Istighfar justru menjadi sarana untuk membersihkan hati ketika sedang berusaha dan memperkuat ketergantungan kepada Allah.
Jangan Menunggu Masalah Datang untuk Beristighfar
Istighfar bukan hanya amalan ketika sedang mengalami kesulitan.
Justru orang beriman dianjurkan untuk selalu kembali kepada Allah.
Sebab manusia tidak pernah lepas dari kekurangan dan kesalahan.
Hari ini kita mungkin mendapatkan kemudahan. Besok belum tentu.
Hari ini rezeki terasa lapang. Besok mungkin menghadapi ujian.
Karena itu, membiasakan istighfar dalam keadaan lapang merupakan bentuk pendidikan hati agar selalu merasa membutuhkan Allah.
Istighfar dan Harapan kepada Allah
Ada pelajaran targhib yang sangat dalam dari kisah Nabi Nuh عليه السلام.
Ketika manusia melakukan kesalahan, jangan berhenti pada rasa bersalah.
Ubahlah rasa bersalah menjadi jalan untuk kembali kepada Allah.
Jangan berhenti pada penyesalan.
Jadikan penyesalan sebagai pintu taubat.
Jangan berhenti pada kesulitan.
Jadikan kesulitan sebagai kesempatan untuk semakin dekat kepada Allah.
Dan jangan berhenti pada dosa.
Segeralah mengetuk pintu ampunan-Nya.
Allah sendiri berfirman:
إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Mengapa istighfar disebut jalan keluar dari kesulitan?
Karena istighfar merupakan bentuk kembali kepada Allah, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan menyebutkan berbagai bentuk karunia bagi orang yang memohon ampun kepada-Nya.
Kisah Nabi Nuh عليه السلام menunjukkan bahwa istighfar memiliki hubungan dengan turunnya rahmat Allah, kelapangan rezeki, dan berbagai kenikmatan. Namun, seorang muslim tidak boleh menjadikan istighfar sebagai “formula otomatis” untuk mendapatkan keinginan duniawi.
Istighfar adalah ibadah.
Ia dilakukan karena kita membutuhkan ampunan Allah.
Adapun setelah itu Allah memberikan kelapangan, ketenangan, rezeki, pertolongan, atau bahkan pahala di akhirat, semuanya merupakan bagian dari keluasan rahmat-Nya.
Maka ketika hidup terasa berat, jangan hanya bertanya:
“Bagaimana masalah ini bisa selesai?”
Tetapi tanyakan pula kepada diri sendiri:
“Sudahkah aku kembali kepada Allah?”
Barangkali pintu yang selama ini kita cari di banyak tempat ternyata harus diketuk terlebih dahulu dengan hati yang tunduk dan lisan yang memohon:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan kesulitan kita, memberikan rezeki yang halal dan berkah, serta menjadikan setiap ujian sebagai jalan semakin dekat kepada-Nya.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ