Banyak orang merasa ragu ketika ingin bersedekah. Bukan karena tidak ikhlas, tetapi karena ada kegelisahan kecil di hati: “Bagaimana jika harta saya berkurang? Bagaimana kalau kebutuhan ke depan justru tidak tercukupi?” Perasaan ini sangat manusiawi. Setiap orang ingin hidup aman, cukup, dan tenang. Namun Islam hadir untuk meluruskan cara pandang kita terhadap harta dan keberkahan.
Dalam Islam, sedekah bukanlah transaksi rugi. Justru sebaliknya, ia adalah investasi yang paling pasti hasilnya, meski sering kali tidak langsung terlihat oleh mata.
Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidak akan membawa kerugian sedikit pun. Allah berfirman:
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dialah sebaik-baik Pemberi rezeki.”
(QS. Saba’: 39)
Ayat ini bukan sekadar janji, tetapi jaminan langsung dari Allah. Setiap rupiah yang keluar karena sedekah, infak, atau bantuan kepada sesama, pasti diganti. Penggantiannya bisa berupa rezeki yang bertambah, urusan yang dimudahkan, hati yang tenang, atau terhindar dari musibah yang tidak kita sangka.
Rasulullah ﷺ bahkan menegaskan dengan kalimat yang sangat kuat, seolah ingin menghapus keraguan umatnya sampai ke akar. Beliau bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.”
(HR. Muslim)
Hadits ini pendek, tetapi maknanya sangat dalam. Secara kasat mata, sedekah memang mengurangi jumlah harta. Namun Islam tidak menilai harta hanya dari angka. Islam memandang harta dari sisi barakah. Berapa banyak orang yang hartanya sedikit, tetapi hidupnya lapang dan tenteram. Sebaliknya, tidak sedikit yang hartanya melimpah, tetapi selalu merasa sempit dan gelisah.
Sedekah menghadirkan keberkahan. Ia membersihkan harta dari hak orang lain yang mungkin melekat tanpa kita sadari. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ فِي الْمَالِ لَحَقًّا سِوَى الزَّكَاةِ
“Sesungguhnya dalam harta itu ada hak selain zakat.”
(HR. Tirmidzi)
Hak tersebut bisa berupa sedekah, infak, atau bantuan kepada fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang membutuhkan. Ketika hak ini ditunaikan, harta menjadi bersih dan lebih berkah. Inilah sebabnya mengapa sedekah justru menjaga harta, bukan menguranginya.
Menariknya, Al-Qur’an menggambarkan sedekah seperti benih yang ditanam. Satu benih tidak akan hilang, tetapi tumbuh menjadi banyak. Allah berfirman:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Baqarah: 261)
Sedekah mengajarkan kita untuk percaya penuh kepada Allah, bukan kepada jumlah yang kita miliki. Ketika tangan kita memberi, sebenarnya kita sedang melatih hati untuk yakin bahwa rezeki bukan datang dari harta, tetapi dari Allah yang Maha Kaya.
Para ulama juga mengingatkan bahwa sedekah adalah sebab datangnya pertolongan Allah. Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:
اسْتَنْزِلُوا الرِّزْقَ بِالصَّدَقَةِ
“Turunkanlah rezeki dengan sedekah.”
Ucapan ini lahir dari keyakinan mendalam bahwa sedekah bukan akhir dari harta, melainkan awal dari keberkahan baru. Banyak orang merasakan, setelah bersedekah, urusan terasa lebih ringan, jalan keluar datang tanpa diduga, dan hati menjadi lebih lapang.
Pada akhirnya, sedekah adalah bukti bahwa kita memahami hakikat harta. Harta bukan untuk ditumpuk, tetapi untuk dialirkan. Semakin lancar ia mengalir di jalan kebaikan, semakin Allah bukakan pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Maka jika hari ini hati kita masih ragu untuk bersedekah karena takut miskin, ingatlah satu hal: yang membuat miskin bukan memberi, tetapi takut memberi. Sedekah tidak mengurangi harta, justru menjaganya – di dunia dan di akhirat.




