WAHYU PERTAMA DAN PENGANGKATAN KERASULAN

Wahyu Pertama - www.wakafalhudabogor.com

WAHYU PERTAMA DAN PENGANGKATAN KERASULAN

  1. Ketika usia Rosululloh ﷺ mendekati 40 tahun, Beliau mulai suka menyendiri dan menghindar dari hingar bingar kehidupan kaumnya yang penuh kesyirikan dan perbuatan nista. Berbekal sekantong makanan dan air secukupnya, Beliau sering pergi menuju gua Hira yang berjarak sekitar dua mil dari kota Makkah.
  2. Dalam kesendirian tersebut, Beliau menghabiskan waktunya untuk beribadah dan merenungi kebesaran alam di sekelilingnya serta menyadari akan adanya kekuasaan yang agung di balik semua penciptaan ini. Hal tersebut Alloh Ta’ala kehendaki baginya sebagai awal dan persiapan untuk menerima sebuah misi besar yang akan mengubah sejarah kemanusiaan. Karena itu, jiwanya harus dibersihkan dari hiruk pikuk duniawi dengan segala kotoran yang ada di dalamnya. Hal tersebut berlangsung selama tiga tahun sebelum diturunkannya tugas kerasulan.
  3. Setelah sekian lama Beliau melakukan khulwah (menyendiri), membersihkan jiwanya dengan memperhatikan besarnya kekuasaan di balik kebesaran alam ini, maka Alloh berikan Beliau kemuliaan dengan mengangkatnya sebagai seorang Rasul sekaligus penutup dari para Nabi dan Rasul.

Peristiwa ini terjadi pada hari Senin, tanggal 21 Ramadhan, tepat saat Beliau berusia 40 tahun dalam hitungan Hijriah. Dan sejak saat itulah, tahun kenabian dihitung. Kejadiannya ditandai dengan hadirnya Jibril ‘alaihissalam yang datang kepadanya dan memeluknya sebanyak tiga kali. Setiap kali memeluknya dia berkata “Bacalah” setiap kali itu pula Rosululloh ﷺ menjawab “Saya tidak dapat membaca” Rosululloh ﷺ sangat keletihan sekali. Takut dan panik menghantui dirinya. Setelah itu Jibril ‘alaihissalam membacakan :

Baca Artikel Lainnya!

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. Al-Alaq : 1-5).

Kemudian Jibril pergi meninggalkannya.

  1. Rosululloh ﷺ kembali ke rumahnya dengan badan gemetar, Beliau khawatir bahwa apa yang baru saja dialami akan mencelakakannya. Kemudian Beliau masuk menemui Khadijah, seraya berkata: “Selimuti aku…..selimuti aku”. Khadijah pun segera menyelimutinya sehingga hilanglah ketakutan dari diri Rosululloh ﷺ, kemudian Beliau menceritakan kepada isterinya setiap apa yang terjadi di gua Hira. “Saya khawatir akan terjadi sesuatu pada diri saya”, ujar Rosululloh ﷺ. Khadijah segera menenangkan dan menghibur suaminya seraya berujar: “Tidak sama sekali, Dia (Tuhan) tidak akan menghinamu selamanya, engkau adalah orang yang suka menyambung silaturrahim, membawakan dan membantu orang yang lemah, menghormati tamu dan suka menolong dalam kebaikan”.
  2. Kemudian Khadijah bersama Rosululloh ﷺ pergi ke rumah pamannya, Waraqah bin Naufal. Dia adalah orang yang banyak mengetahui isi Kitab Taurat dan Injil. Setelah Rosululloh ﷺ pun menceritakan apa yang terjadi, Waraqah pun tampak gembira dan ia mengatakan, “Itu adalah malaikat Jibril yang Alloh turunkan kepada Nabi Musa, engkaulah Nabi umat ini. Ah, sayang sekali, seandainya aku masih hidup, saat engkau diusir oleh kaummu?” “Apakah mereka akan mengusir aku?” “Ya, karena tidak ada seorang pun yang membawa seperti apa yang kamu bawa kecuali dia akan dimusuhi. Seandainya aku mengalami saat hal itu terjadi, aku akan membelamu sungguh-sungguh”, kata Waraqah.
  3. Setelah turun wahyu pertama, lantas wahyu berikutnya belum turun lagi beberapa hari lamanya. Hal ini membuat Rosululloh ﷺ gelisah dan bersedih. Beliau terus menanti wahyu berikutnya diturunkan. Hingga kemudian suatu hari, ketika Beliau sedang berjalan, tiba-tiba terdengar suara dari langit. Ketika Beliau cari sumber suara tersebut, Beliau menyaksikan malaikat yang mendatanginya di gua Hira sedang duduk di kursi antara langit dan bumi. Beliau kembali merasakan ketakutan yang luar biasa hingga terjatuh di tanah. Kemudian Beliau segera pulang menemui isterinya; Khadijah, seraya berucap: “Selimuti aku, selimuti aku”.  Kemudian Khadijah menyelimutinya.
  4. Pada saat itulah wahyu kedua Alloh turunkan, yaitu: “Hai orang yang berselimut, Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu, agungkanlah, Dan pakaianmu, bersihkanlah, Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah” (QS. Al-Muddatsir: 1-7).
  5. Dengan diturunkannya ayat ini, maka tugas Rosululloh ﷺ semakin jelas, yaitu untuk menyeru umatnya agar mengagungkan Alloh Ta’ala dengan beribadah serta tunduk pada segala perintah dan ajaran-Nya.  Sejak saat itu, turunlah wahyu-wahyu berikutnya, menandai dimulainya sebuah perjuangan (jihad) tanpa henti untuk mendakwahkan serta menegakkan agama Alloh di muka bumi ini.

Raih Keutamaan Sedekah Shubuh untuk Sarana Ibadah

Kategori

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *